In search God (Mencari Tuhan)


M E N C A R I T U H A N

Oleh : Gamesh

 

Mencari Tuhan, haruskah ?

Dengan cara bagaimana ?

Haruskah mencari Tuhan dengan agama ?

Agama yang benar itu seperti apa ?

Apa syarat sehingga bisa disebut agama?

Keresahan saat mencari kebenaran, bisa sangat subyektif. Keresahan adalah bekal pencarian. Kesalahan adalah buah dari ketidakpahaman. Tidak ada orang salah yang ada hanyalah orang yang tidak paham.

Mencari Tuhan

Mungkin sudah bawaan setiap manusia, suatu saat akan bertanya tentang sesuatu yang tertinggi di luar dirinya. Dalam perkembangan sejarah manusia, pencarian Tuhan terbagi dalam dua aliran utama : Tuhan itu memang ada atau kita yang meng-ada-kan, sesuatu realitas tertinggi ataukah suatu abstraksi tertinggi . Kita harus menghormati perbedaan ini. Untuk mengurangi sekat perbedaan, kita bisa mencatat proses pencaharian ini sebagai hal yang alami bisa juga sebagai titipan memory surgawi.

Bila Tuhan dipercaya ada, sering terpahami kalau tahkta suci terlalu tinggi di langit, tidak terjangkau penghuni dunia. Pencaharian akan bermuara kemana-mana, kerinduan akan Tuhan pun bisa bermuara ke humanisasi Tuhan, memanusiawikan Tuhan agar mudah terpahami, Tuhan yang bertingkah-laku seperti manusia, medianya bisa apa saja: lagu, film, humor.

Ada lagu bagus berjudul “One of us” oleh Joan Osbourne, liriknya sarat ‘kerinduan’ “God is Great, God is good, what if God was one of us, just a slob like one of us, just astranger on the bus..” . Kita tidak bisa bilang ini humanisasi yang kebablasan.

Era 90-an banyak film bioskop yang memanusiawikan penghuni langit. Seperti City of Angle dari Nicolas Cage, High Way to Heaven nya Michael London. Para penghuni langit yang manusiawi, bisa main soft ball juga jatuh cinta. Sejak zaman Michael Angelo sampai akhir abad 20, semua perwujudan Tuhan dalam film pasti orang ras kulit putih. Baru akhir-akhir ini kulit berwarna bisa menjadi perwujudan Tuhan, Bruce All Mighty. Kerinduan akan Tuhan sangat memperhatikan isu sara, hebatnya makluk tanah liat.

Saat isu feminisme merebak, identitas Tuhan pun dipertanyakan. Dalam bahasa Inggris God menjadi HE, ini yang diperotes. Protes berujung pada tuduhan bahwa segala bentuk agama & asesorisnya adalah hanya ciptaan kaum maskulin, untuk legitimasi otoritas. Ditengah protes yang merebak, karena Amstrong menulis dalam buku sejarah Tuhan, hebatnya bahasa Arab kata Allah adalah maskulin tetapi kata al-Dzat adalah feminim.

Hal-hal seperti ini produk langit atau produk bukan langit, kita bisa berdebat panjang lebar karena tidak ada seorangpun yang berhak memonopoli kebenaran. Atau kita mencoba memahaminya dengan arif, ciri orang yang sudah tercerahkan. Di beberapa agama & -isme dikenal anak Tuhan, anak dewa atau titisan dewa, ada juga fenomena perantara, orang-orang suci yang sudah meninggal maupun belum sebagai perantara doa kita pada Tuhan. Apa benang merahnya dari hal di atas? Penghuni dunia butuh penghuni langit yang dekat, yang manusiawi, yang mudah dipahami.

Haruskah agama & -isme : humanis?

Dengan jalan bagaimana kita mencari Tuhan? Cara susah adalah bikin agama atau -isme baru. Cara mudah adalah bergabung dengan komunitas yang sudah ada, bisa pemeluk agama lain, bisa juga -isme lain. Nasehat bijak, bila pemeluk suatu agama (atau -isme) ahklaknya bagus, silahkan bertanya agama (atau -isme)nya apa, mulailah belajar darinya dengan sepenuh hati. Namun bila pemeluk suatu agama (atau -isme) ahklaknya jelek, jangan dulu dianggap agama (atau isme)nya jelek, sangat mungkin kita hanya tidak beruntung, kita bertemu sampel yang jelek. Mulailah cari sampel lain.

Para nabi, para orang suci telah wafat 1500 tahun yang lalu bahkan lebih. Berbahagialah mereka yang hidup di zaman para nabi dan orang suci. Ada referensi suci tempat bertaya. Apa yang membuat kita yakin akan sesuatu? Hanya kitab suci yang kita warisi.

Kitab suci, salah satu isinya adalah manual book untuk hidup di dunia. Bila kita hanya mencari aturan hidup berbahagia di dunia, undang -undang bernegara pun bisa menjadi kitab suci bagi kita. Produk langit ataupun produk bukan langit, tidak ada seorangpun yang berhak memutuskan, dan kita hanya mencari apa yang kita pahami. Mungkin bisa sangat subyektif, disebut kitab suci karena isinya sempurna : mengatur dari hulu sampai hilir tentang manusia, dan isinya tidak saling bertentangan. Bila ada yang bertentangan, kita bisa mengirimnya ke Recycle Bin dan pindah cari kitab suci lain, mulai dari awal.

Apa yang menjadi syarat disebut agama atau hanya -isme? Benarkah agama punya Tuhan isme tidak punya Tuhan, apa untungkanya? Berdasarkan definisi peradaban tidak semua agama punya Tuhan. Di era banyak pilihan -isme memberi wajah yang lebih ramah, lebih humanis dibandingkan agama. Sebab pertama : agama memang tidak humanis, karena pada agama ada hukuman, manusia tidak suka bila dihukum. Sebab kedua : para pemeluk agama yang belum paripurna untuk menunjukan keberadaanya lebih suka memilih peran sebagai malaikat penghukum daripada malaikat pemberi berkah, Public Relation yang jelek.

Produk langit atau produk sejarah ? -isme produk sejarah, kita semua setuju. Karena -isme isinya berubah terus tergantung isu hanyat yang beredar. Berubahnya bisa setiap tahun, bisa setiap bulan bisa setiap detik. Yang selalu berubah memang terasa lebih bisa mengakomomodasi keinginan namun menjadi tidak sakral. Apa arti sakral, apa fungsinya? Lebih mudah kita mengartikan sakral sebagai suci tanpa campur tangan manusia. Kita lebih takdzim mengikuti sesuatu yang tidak banyak campur tangan manusia kebanyakan. Memang sangat subyektif. Apakah semua agama produk langit atau produk sejarah? Bila cukup energi untuk meneliti litelatur, akan tersaring mana yang produk sejarah, bukan berarti semua yang tersisa produk langit.

Isu yang berkembang, agama perlu direkontruksi agar lebih humanis, agar pamornya tidak kalah dibanding -isme. Wajah agama boleh berubah, karena ini hanya menyangkut penampilan pengikutnya, namun jangan isi agama. Banyak agama yang telah ditinggalkan pengikutnya karena mengakomodasi isu sesaat, jatuh menjadi produk sejarah.

Agama warisan

Kita harus menyadari di berbagai kelompok masyarakat, agama bukan suatu pilihan namun warisan orang tua yang harus ditelan, kita paham atau tidak. Setelah dewasa baru mencoba membenarkan pilihan tersebut. Pernahkah terlintas pada kita untuk mengkaji dengan akal konsep-konsep mendasarnya, pernahkah kita mengkaji dengan nurani kebenaran ajarannya. Sebuah proses panjang, sangat membutuhkan kejernihan akal dan kebersihan hati. Bila sangat disiplin menjalaninya mungkin kita akan bermuara pada kesadaran agung yang benar-benar agung bukan yang keagungan semu.

Beragama tanpa proses pengkajian akan mencapai titik kejenuhan, membosankan. Terjebak rutinitas tanpa nyawa, di satu sisi berakhir menjadi fundamentalis dan disisi lain berakhir menjadi agama baru yang serba boleh. Yang pertama akan tercermin pada mudahnya pengkafiran orang lain, hanya kelompoknya sendiri yang benar; sedangkan yang kedua akan mengkristal pada kekosongan jiwa. Kenapa untuk hal yang sangat mendasar, mahkluk tanah liat seperti tidak pernah punya waktu untuk mengkajinya?

Suatu saat kita berjumpa dengan orang pedalaman hutan belantara yang tidak se-(agama / -isme) dengan segala keterpencilannya. Perenungan hatinya bermuara pada kepercayaan komunitasnya. Haruskah kita menyebutnya domba tersesat, atau menyebutnya kaum kafir? Tidak ada teladan yang bisa kita dapat dari orang yang mudah meng-domba-sesat-kan atau meng-kafir-kan orang lain. Tidak ada seorangpun yang berhak membela takhta suci dengan memaki, karena itu bukan makanan nurani. Bagaimana kita bisa yakin kepercayaan kita lebih bagus daripada milik mereka, bagaimana bila mereka juga beranggapan seperti itu. Suatu perenungan beberapa generasi harus diubah karena kedatangan orang asing yang belum teruji kemanusiannya, kita akan terjebak debat yang amat melelahkan. Hanya suri teladan dan waktu yang bisa membuktikan kebenaran.

Kata “pedalaman hutan belantara” bisa juga diartikan pedalaman hutan gedung, mereka sama-sama terpencil. Mereka yang di pedalaman hutan gedung berada pada keadaan keramaian dalam kesepian, informasi bersifat recycle bin begitu banyak, ilmu pencerahan jarang, terpencil. Bahasa nurani dikondisikan tidak dipakai, bahasa demokrasi di wajibkan. Yang banyak itulah yang benar, dan kebenaran hanya boleh dipakai direlung hati tidak di publik. Bila ber-agama didefinisikan kebebasan ber-nurani, sangat mungkin saudara kita yang dipedalaman hutan belantara lebih beragama daripada kita.

Mahluk tanah liat memang berkecenderungan tamak, setelah memonopoli kebenaran, surga pun minta surga yang eksklusif, surga yang khusus untuk kelompoknya. Malah kalau bisa diluar kelompoknya jangan ada yang diberi surga, jenis apapun. Tidak ada penghuni surga yang tamak.

Apa yang diharapkan dari agama & -isme ?

Panduan untuk hidup di dunia. Syukur kalau di daftar isinya ada panduan untuk hidup di akherat. Pengakuan ber (agama / -isme) tidaklah berati apa-apa, bila tanpa mengamalkan tuntunannya. Hidup di dunia selalu dihadapkan dalam dua pilihan, tidak semua makluk tanah liat bisa dengan ihklas memilih kebajikan, sampai perlu diancam dengan neraka atau diiming-imingi dengan surga, ciri keber-agama-an yang belum dewasa. Kejahatan atau kebajikan, makluk tanah liat cenderung memilih yang lebih mudah. Lebih mudah untuk menurutkan nafsu daripada mendidik nafsu, lebih mudah marah daripada bersabar, lebih mudah menasehati daripada dinasehati, lebih mudah mencari pembenaran dari pada kebenaran, lebih mudah jadi abangan daripada jadi kyai, lebih mudah jadi orang kebanyakan daripada jadi orang yang mencerahkan, lebih mudah jadi orang gagal daripada jadi orang sukses.

Agama, jalan kebenaran, -isme apapun yang kita anut sekarang kita harus menjalankannya dengan penuh totalitas jasmani-rohani, akal-nurani. Suatu proses yang amat sangat panjang. Tuhan ada atau tidak, pencarian itu tidak akan sia-sia, bisa untuk hasrat titipan memori surgawi atau bisa untuk hasrat alami.

Takhta tertinggi telah menjamin siapapun yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh, kelak akan bertemu dengan Nya.

About Andre Puja Oktora

I am a Civil Engineer specialist in underground structure as well as bridge design. I love travelling. My dream is to step my feet in all continents before 40.
This entry was posted in Faith and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to In search God (Mencari Tuhan)

  1. kresna says:

    agama tidak lebih dari sebuah keyakinan yang dilembagakan, hanya sebuah label untuk membedakan satu dengan lainnya. tidak perlu agama untuk menemukan Tuhan, Tuhan ada dihati semua orang, Tuhan ada di Alam. Kalau pun kita tak memilih sebuah jalan(agama) maka Kuyakin Tuhan akan menjadi jalan ku.

  2. Andre Puja Oktora says:

    yup, seperti yang diutrakan oleh penulis, agama bukanlah jalan keselamatan😉

  3. yesusmanusia says:

    Kalau hidup boleh diulang, seharusnya saya saya mencari Tuhan dulu barangkali ya.. Baru nyari agama.. Kalau agama gak ketemu yang pas, minimal saya udah ketemu Tuhan

    Yah karena hidup gak bisa diulang, maka terpaksa deh nyari ulang Tuhan 😉

  4. Pingback: My 1st posting [at] sionitb « Andre Puja Oktora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s